Korelasi bukan sebab-akibat: pelajaran dari es krim dan kolam renang
Dua hal naik bersama, belum tentu saling menyebabkan.
Ada contoh klasik yang selalu saya pakai saat menjelaskan ini ke teman. Di banyak tempat, penjualan es krim naik pada bulan yang sama dengan naiknya kasus orang tenggelam. Kalau kita hanya melihat angkanya, orang bisa menyimpulkan es krim menyebabkan tenggelam. Tentu tidak. Keduanya naik karena hal ketiga: cuaca panas. Orang membeli es krim dan orang pergi berenang.
Hal ketiga yang tersembunyi ini disebut variabel pengganggu, dan ia ada di mana-mana. Dua hal yang bergerak bersama hanya menunjukkan korelasi, yaitu mereka cenderung muncul bersamaan. Itu tidak berarti yang satu menyebabkan yang lain.
Baca juga: Mengapa obat baru harus dibandingkan dengan pil kosong
Tiga kemungkinan untuk setiap korelasi
Setiap kali melihat dua hal yang berjalan seiring, ada setidaknya tiga kemungkinan. Pertama, A memang menyebabkan B. Kedua, B yang menyebabkan A, arahnya terbalik. Ketiga, ada C yang menyebabkan keduanya, seperti cuaca panas tadi. Dan masih ada kemungkinan keempat yang membosankan: kebetulan saja, terutama kalau datanya sedikit.
Contoh lain yang lebih dekat: kota dengan lebih banyak rumah sakit sering punya lebih banyak orang sakit. Bukan karena rumah sakit membuat orang sakit, melainkan karena kota besar punya lebih banyak orang, jadi lebih banyak yang sakit dan lebih banyak rumah sakit sekaligus.
Cara membedakan korelasi dari sebab-akibat adalah dengan percobaan yang terkendali atau dengan pengamatan yang sangat hati-hati memperhitungkan variabel pengganggu. Itu pekerjaan yang lambat, dan inilah sebabnya ilmuwan jarang terburu-buru menyimpulkan.
Kalau ada satu kebiasaan kecil yang ingin saya tularkan: setiap kali membaca judul berita yang berbunyi A terkait dengan B, tanyakan dalam hati, apa C-nya?
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.